28/09/10

Nila Merah untuk Tambak Idle


Ujang Komarudin.
Perekayasa Muda BBAP Ujung Batee, Aceh.

 Tambak idle (baca ai-dél) adalah tambak yang tidak terurus atau bahkan tidak diurus.  Penyebabnya bermacam-macam.  Mungkin karena sudah tidak layak lagi untuk memelihara udang, penyakit white spot selalu mengintai, suplai air laut tidak cukup, tambak kurang dalam, banyak ditumbuhi lumut/tanaman air, atau mungkin petambak sudah kehabisan modal dan akal untuk mengusahakan tambaknya. Kondisi demikian sering kita jumpai, kalau kita turun langsung ke pertambakan tradisional.  Yang diperlukan sangat mendesak oleh petambak adalah kehadiran komoditas yang beresiko rendah (low risk), biaya operasionalnya murah (low cost), bahkan kalau bisa, tanpa perlu diberi pakan buatan (low trophic level).
Ikan nila merah, Oreochromis niloticus Trewavas,  awalnya merupakan hybrid (silangan) dari O. hornorum dan O. mossambicus yang dimasukkan ke Indonesia pada tahun 1981 dari Filipina.  Ikan ini bukanlah komoditas baru, budidayanya sudah cukup berkembang di Filipina dan Thailand.  Namun, menjadi terasa “baru” apabila dikembangkan di tambak-tambak yang kadar garamnya mencapai 30 ppt atau lebih (air laut), karena sebelumnya, nila merah hanya populer dipelihara di air tawar. 


Ternyata, nila merah sedikit berbeda dari nila jenis lainnya.  Ikan ini sangat euryhaline, hidupnya tidak terganggu dengan kadar garam lingkungannya.  Menurut sebuah sumber, ikan ini mampu hidup pada kadar garam di atas 100 permil.  Luar biasa untuk spesies yang aslinya dari hidup di air tawar.  Namun, pada kadar garam diatas 10 ppt, perkembangbiakannya mulai terhambat.  Pada kadar garam di atas 30 ppt, mereka tidak bisa kawin lagi.  Tapi, justru karena tidak bisa kawin pada kondisi kadar garam tinggi (air payau) inilah – sementara laju tumbuhnya tidak terganggu – menjadi suatu kelebihan tersendiri bagi nila merah.  Kita tidak perlu repot-repot lagi mencari benih tunggal kelamin (monosex) untuk menghindari perkawinan tidak terkontrol yang membuat ikan menjadi kerdil.
Lantas, apa hubungan tambak idle dengan nila merah?.  Nah disinilah terobosan yang sedang dilakukan BBAP Ujung Batee.  Dalam kaitan ini, BBAP Ujung Batee bekerja sama dengan ACIAR, melakukan percobaan budidaya ikan nila merah di tambak idle tersebut di Desa Arongan, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen.  Hasilnya cukup bagus, baik dilihat dari ketahanan maupun pertumbuhannya.  Walaupun percobaan masih berjalan, namun sangat optimis ikan ini dapat menjadi salah satu spesies yang dapat memulihkan produktivitas tambak.  Disamping sebagai komoditas produksi, nila merah (dan juga nila lainnya) dapat membuat tanah dasar tambak menjadi gembur serta menghambat populasi bakteri vibrio melalui ekskresi lendirnya.
Sebagai pemakan segala (omnivora), nila merah ternyata merupakan pemakan tumbuhan air yang sangat rakus.  Ganggang, lumut, klekap, alga benang, bahkan rumput yang menjuntai ke tambak akan menjadi makanan favorit bagi mereka.  Bila kurang, kita juga bisa berikan daun singkong, daun papaya, kangkung, atau sayuran darat lainnya.  Dedak juga, bila tersedia dan murah, dapat menjadi menunya.  Dengan demikian, tambak-tambak tidak terurus yang ditumbuhi ganggang/lumut/klekap/alga benang atau gulma liar lainnya cocok menjadi tempat budidaya ikan nila merah.  
Pada percobaan tersebut, digunakan satu petak tambak berukuran 2.860 m2 yang 90% permukaannya ditumbuhi berbagai vegetasi air seperti lumut, ganggang, alga benang, dan klekap.  Kedalaman air berkisar antara 40 cm (pelataran) dan 60 cm (caren).  Tambak ditebari benih nila merah ukuran sekitar 8 gram yang telah diadaptasikan ke air payau (kadar garam 20 ppt).  Jumlah benih yang ditebar adalah 4000 ekor atau kepadatan 1,5 ekor/m2.  Benih nila merah telah diproduksi massal dan tersedia di BBAP Ujung Batee; kadar garam dapat diatur sesuai pesanan (kondisi air tambak).  Setelah dipelihara selama 4 bulan – dengan hanya mengandalkan makanan alami – nila merah telah mencapai berat rata-rata 150 gram; dan pada saat tersebut vegetasi tumbuhan air tersisa tinggal 10% menutupi permukaan tambak.

Idealnya, ikan tersebut segera dipindah ke petak lain yang telah disiapkan sebelumnya; yakni telah dipenuhi berbagai vegetasi air dan klekap.  Namun, percobaan mengharuskan penggunaan pakan buatan (pellet) setelah makanan alami habis.  Pada akhir bulan ke-5 (setelah pemberian pellet selama sebulan), ikan sudah mencapai berat rata-rata 220 gram/ekor, bahkan sudah banyak yang mencapai 400 gram/ekor.  Pada tambak tradisional, metode pemeliharaan system berpindah (modular system) nampaknya cocok untuk dilakukan; artinya ikan segera dipindah ke petak yang makanan alaminya telah tumbuh/melimpah, sehingga penggunaan pakan buatan (pellet) dapat dihindari atau bahkan tidak sama sekali.
Dengan hanya mengandalkan makanan alami (ganggang, lumut, klekap, dan sejenisnya), ikan nila merah dapat tumbuh dengan kecepatan sekitar 1,13 gram/hari (selama 4 bulan pertama), selanjutnya tumbuh dengan laju 2,57 gram/hari saat menggunakan pakan buatan (pellet).  Tingkat kelangsungan hidup diperkirakan tidak kurang dari 90%.  Sekilas mengenai kualitas air; kadar garam berkisar 15 – 22 ppt, suhu air 29 – 34 oC, pH air 7,8 – 8,2, dan kandungan oksigen 3,2 – 5,6 ppm.

Bulan ke-
Tambak percontohan budidaya ikan nila merah cukup menarik perhatian para petambak; hal ini tercermin dari antusiasme mereka saat berlangsung acara temu lapang petambak (farmer group meeting) pada 12 Nopember 2009 lalu.  Minat petambak untuk mencoba pemeliharaan ikan nila merah tidak terlepas dari 3 kemudahan yang ditawarkan melalui komoditas ini : low risk (resiko rendah), low cost (biaya murah), dan low trophic level (tanpa perlu pakan buatan).  Dan yang lebih penting, benih ikan ini telah tersedia di BBAP Ujung Batee dengan harga yang rasional.  Atau bahkan, dalam jangka waktu tidak terlalu lama lagi, para petambak akan dapat melakukan sendiri pembenihannya, karena teknologinya cukup sederhana.
bisa mencapai 400 gr dalam 5 bulan