Tentang Saya



Ibnu Sahidhir
Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jl Laksamana Malahayati Km.16, PO BOX 46 Banda Aceh
Lebih lanjut: [email protected]


Educational Background :
Aquaculture, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, University of Diponegoro
Fish Genetic Polymorphism, Department of Aquaculture, National Taiwan Ocean University
Work Experiences : 
Sejenak menengok pekerjaan Shrimp Hatchery Quality Control (QC) di PT. Komindo Trading Utama, Carita, tahun 2007, cukup memberikan bayangan bagi saya tentang aktivitas keseharian akuakulturis.  Bergaul dengan banyak spesies seperti Tilapia, Udang Windu dan Kerapu (2008-2011) di BBAP Ujung Batee, sedikit punya pengalaman berbeda. Jabatan fungsional perekayasa (2010) mengharuskan pelaksana lapangan mengumpulkan angka kredit untuk kenaikan pangkat. Ada juga kegiatan tambahan. Yang cukup berkesan adalah pemetaan potensi akuakultur dalam FAO-UBBADC Cooperation Project on Freshwater Aquaculture Site Selection and Oyster Farming (2008-2009); pengumpulan data petambak dan penyebaran informasi akuakultur AACC (Aceh Aquaculture Communication Center) (2009-2011). Dan tidak kalah seru ketika berbagi pengalaman praktis di Universitas Abul Yatama (2010). Setelah menyelesaikan studi selama 2 tahun di Taiwan, tanggung jawab menjadi semakin menantang setelah diberi kesempatan untuk memasyarakatkan pakan buatan ke masyarakat (2013). Kemudian muncullah sebuah usaha pengrajin pakan apung pertama di Provinsi Aceh dengan nama Bina Pakan Mandiri (2014). Tahun berikutnya dicoba berbagai macam perbaikan kinerja pakan dengan suplemen. Selang dua tahun muncul pabrik mini pelet tenggelam.


  1. Pelaksana Pakan Buatan, 2015-2016
  2. Pelaksana Pakan Alami dan Pakan Buatan, 2014
  3. Dosen terbang, Universitas Abul Yataama, 2010
  4. Pelaksana Pembenihan Udang Penaeid, 2010
  5. Pelaksana AACC (Aceh Aquaculture Communication Center), 2010
  6. Pelaksana Pembenihan Ikan Nila Air Payau, Januari-Oktober 2009
  7. Konsultan Teknis Budidaya Ikan Nila di Tambak di Aceh Jaya, Caritas Czech Republic-UBBADC, 2009
  8. Seksi Pelayanan Teknis AACC (Aceh Aquaculture Communication Center) BBAP Ujung Batee 2009.
  9. GIS Team (Geographic Information Systems) FAO-UBBADC Cooperation Project on Freshwater Aquaculture Site Selection and Oyster Farming. November 2008 -2009 
  10. Shrimp Hatchery Quality Control (QC), PT. Komindo Trading Utama, 2007

Training and Seminar : 
Salah satu keuntungan bekerja di institusi pemerintah adalah adanya perbaikan kinerja aparat secara simultan. Cukup banyak pelatihan yang diadakan, terutama tahun 2008, seperti pelatihan tentang skill penyuluhan; hak kekayaan intelektual; budidaya Udang dan Rumput Laut; EM4 Technology; budidaya ramah lingkungan sesuai kondisi lahan; pakan ikan; pelatihan pendederan Kerapu; dan pengelolaan wilayah pantai di Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand. Yang tidak kurang penting yakni adanya kesempatan untuk berbagi seperti dalam pelatihan petambak untuk budidaya Kerapu, Tilapia dan Udang (2009); serta Indonesian Aquaculture (Yogyakarta 2008, Lampung 2010). Tahun 2013 mulai disebarluaskan topik pakan fungsional dan nutrigenomic di forum Evaluasi Pakan Nasional. Perubahan paradigma terhadap manajemen kesehatan hewan akuatik membawa nuansa baru dalam materi indonesian aquaculture 2014 (Jakarta) dan 2015 (Tangerang Selatan). 

2016
1. Narasumber di Forum Gerakan Pakan Mandiri, Yogyakarta 31 Mei-3 Juni 2016
2. Peserta di Petugas Pengambil Contoh Pakan, Bandung 16-19 Mei 2016
3. Narasumber di Sosialisasi Pembentukan Kelompok Produsen Pakan Mandiri DKP Provinsi Aceh, 9-11 Mei 2016
4. Presenter di Asian Pacific Aquaculture 2016, World Aquaculture Society, Surabaya 26-29 April 2016
5. Peserta di Training Design and Methodology - Aquaculture Feed Trials 2016 Bribie Island Research Center, Queensland, Australia 6-24 Maret 2016
2015
6.  Narasumber di Gelar Pakan Mandiri Nasional, Jakarta 6-7 Desember 2015
7.  Presenter di Jejaring Pakan Nasional, Jakarta Selatan, 10 November 2015
8.  Presenter di 5th Annual International Conference, Universitas Syiah Kuala, Aceh, September 2015
9.  Presenter di Seminar Nasional Biotik, IAIN Ar Raniry, Aceh, April 2015
10. Peserta di Training of Trainer, On Farm Shrimp Feed Management, USAID-FAO-MMAF, Banyuwangi, Januari 2015
2014
11. Presenter di Jejaring Pakan Nasional, Depok, 20 November 2014
12. Presenter di Indonesian Aquaculture, Jakarta, Agustus 2014
2011-2013
13. Narasumber di Pertemuan Evaluasi Pakan Nasional, Desember 2013, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, KKP
14.  Presenter di World Ocean Day 2013, National Taiwan Ocean University
15.  Peserta (Poster Riset Juara III) di Annual Conference, Taiwan Fisheries Society 2012
16.  Presenter di The 3rd Annual Indonesian Scholars Conference in Taiwan 2012
2009-2010
17.  Presenter di Indonesian Aquaculture, Lampung, Oktober 2010
18. Trainer di Field Training of Tilapia Pond Culture, Juli-Desember 2009, AACC-Japan Foundation for Poverty Reduction
19.  Trainer di Shrimp and Groupers Hatchery. BBAP Ujung batee, Aceh Besar. 23 Februari-14 Maret 2009.
2008
20.  Presenter di Indonesian Aquaculture, Yogyakarta, November 2008
21.  Trainer di Nursery of Grouper and Tilapia and Tilapia Adaptation to Brackishwater. BBAP Ujung batee, Aceh Besar. 5-6 November 2008.
22. Peserta di Integrated Coastal Zone Planning and Management Using Geoinformation Technologies. Asian Institute of Technology, Bangkok. 15-26 September 2008.
23.  Peserta di Intellectual Property Rights. BBAP Ujung Batee, Aceh Besar, 6 Agustus 2008.
24. Peserta di Formulated Feed Adaptations for Seabass and Grouper, Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut (BBRPBL), Bali. 30-12 Juni 2008.
25. Peserta di Effective Microorganisms Technology. Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA), Bali, 26-28 Mei 2008.
26. Peserta di Technical Workshop on Alternative Farming Systems for Brackishwater Aquaculture. BBAP Ujung Batee, Aceh Besar, 12-16 Mei, 2008.
27. Peserta di Workshop on Shrimp and Gracillaria Culture: New trends for Changing World. BBAP Ujung Batee, Aceh Besar, 1-2 Mei, 2008.
28. Peserta di Training Course on Extension Skills, BBAP Ujung Batee, Aceh Besar. 8-17 April, 2008.

JURNAL DAN MAKALAH KONFERENSI
  1. Sahidhir and Ming-Hsung Chiu. 2013. Mini review: microsatellites marker and its application to identify diseases resistant population in aquaculture species. Indonesian Scholar Journal. Vol I, 14-18 pp.
  2. Sahidhir, I., Abdul R,, Yasir, Azwar T., and Abidin N. Quercetin and Allicin as Prophylactic Herbs for Brackishwater Tilapia in Periphyton Nursery System. 2015. Proceedings of The 5th Annual International Conference Syiah Kuala University (AIC Unsyiah) 2015 In conjunction with The 8th International Conference of Chemical Engineering on Science and Applications (ChESA), September 2015, Banda Aceh, Indonesia
  3.  Sahidhir, I., Nugroho, Y.H., Rahmatullah. 2015. Percepatan Maturasi Induk Ikan Nila Payau (Oreochromis sp.) dengan Silase Mikrobial dari Rumput Laut Latoh (Caulerpa lentillifera) dan Nanas (Ananas comosus). Prosiding Seminar Nasional Biotik UIN Ar Raniry, April 2015, Banda Aceh, Indonesia
MAKALAH DAN POSTER HASIL PEREKAYASAAN (INDONESIAN AQUACULTURE)
  1. Pisang shrimp, an indigenous shrimp of Aceh, from hatchery to growout polyculture (Asian Pacific Aquaculture 2016)
  2. Intensive culture of brackishwater tilapia with powdered activated carbon and starch (Asian Pacific Aquaculture 2016)
  3. Current conditions of Aceh eastern coast shrimp farmer after tsunami: a short training-based survey (Asian Pacific Aquaculture 2016)
  4. Quercetin and allicin as prophylactic herbs for brackishwater tilapia in periphyton nursery system (Asian Pacific Aquaculture 2016)
  5. Successful pioneer of home-made fish feed in Aceh (Asian Pacific Aquaculture 2016)
  6. Perifiton live feed to substitute predigested enzyme in brackishwater tilapia nursery (Asian Pacific Aquaculture 2016)
  7. Addition of phosphate or nitrate before stocking increase survival rate in black tiger shrimp Penaeus monodon nursery (Asian Pacific Aquaculture 2016)
  8. Sea grapes Caulerpa lentillifera as a supplemental feed ingredients for brackishwater nile tilapia (Asian Pacific Aquaculture 2016)
  9. Penambahan serbuk arang aktif untuk pakan menurunkan FCR dan limbah amonia pada pembesaran ikan nila payau (Makalah Indonesian Aquaculture 2015)
  10. Silase mikrobial Caulerpa lentillifera dan Ananas comosus memangkas waktu pematangan induk ikan nila payau betina (Makalah Indonesian Aquaculture 2015)
  11. Memilah Ikan Nila Tahan Salinitas Tinggi dengan SSR Prolactin dan Growth Hormone (Makalah Indonesian Aquaculture 2015)
  12. Mortalitas sangat rendah pada pemeliharaan udang windu dengan aplikasi serbuk arang aktif dan serbuk jerami di air (Makalah Indonesian Aquaculture 2015)
  13. Pakan profilaktik dengan Ceriops tagal, Cynodon dactylon dan Gracillaria verrucosa untuk pemeliharaan udang pisang (Poster Indonesian Aquaculture 2015)
  14. Assessment kapasitas petambak untuk kebangkitan usaha budidaya udang windu di Aceh (Poster Indonesian Aquaculture 2015)
  15. Dinamika mikroba pada kondisi nitrogen dan fosfat eutrofik pada pemeliharaan udang windu (Poster Indonesian Aquaculture 2015)
  16. SR post larva udang pisang meningkat hampir dua kali lipat dengan probiotik fermentatif (Makalah Indonesian Aquaculture 2014)
  17. SR post larva udang pisang meningkat secara bertahap mengikuti naiknya dosis vitamin C (Makalah Indonesian Aquaculture 2014)
  18. Biochar meningkatkan SR benih ikan bandeng 50% lebih baik dibanding kontrol (Makalah Indonesian Aquaculture 2014)
  19. Additif fermentatif pakan merangsang ovulasi dan daya tetas tinggi pada induk Bandeng (Chanos chanos, Forskall) (Makalah Indonesian Aquaculture 2014)
  20. Aplikasi Latoh (Caulerpa lentillifera) sebagai biofilter untuk mengendalikan infestasi parasit pada induk kerapu (Makalah Indonesian Aquaculture 2014)
  21. Prospek marikultur ikan rambeu Aceh (Charanx sp.) (Makalah Indonesian Aquaculture 2014)
  22. Diseminasi teknologi budidaya nila payau, sebuah pendekatan bisnis yang mandiri (Makalah Indonesian Aquaculture 2014)
  23. Tujuh belas marka DNA SSR (simple sequence repeat) baru sebagai pondasi breeding molekuler ikan bandeng (Chanos chanos) (Poster Indonesian Aquaculture 2014)
  24. Produksi benih udang lambouh (Makalah Indonesian Aquaculture 2010)
  25. Budidaya Udang Lambouh di Tambak Semi Tradisional (Makalah Indonesian Aquaculture 2010)
  26. Efisiensi pentokolan udang windu dengan bokashi jerami terfermentasi (Makalah Indonesian Aquaculture 2008)
KEREKAYASAAN KHUSUS NILA PAYAU (2009)
  1. Pemijahan nila payau di bak terkontrol
  2. Pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila merah pada salinitas yang berbeda
  3. Produktifitas induk ikan nila merah pada salinitas yang berbeda
  4. Partisi dan manipulasi salinitas untuk menyeragamkan siklus memijah ikan nila 
TULISAN POPULER 
  1. Serbuk Arang Aktif untuk Budidaya, Majalah Trobos, Maret 2016 
  2.  Efisiensi dan Kinerja Pakan Fungsional, Majalah Info Akuakultur, Februari 2016 
  3.  Aplikasi Serbuk Arang Aktif dalam Pakan Budidaya, Majalah Info Akuakultur, Januari 2016 
  4.  Pakan Fungsional dalam Akuakultur, Majalah Info Akuakultur, Desember 2016 
  5. Air Merah Membawa Berkah, Buffer Microbial System, Majalah Info Akuakultur, Agustus 2015 
  6. Strategi Mengatasi Tambak Mangkrak, Majalah Info Akuakultur, September 2015 
  7. Aplikasi Serbuk Arang Aktif untuk Pakan Budidaya, Majalah Info Akuakultur, Oktober 2015 
  8. Cerita Sukses Budidaya Udang Lambouh, AACC (Aceh Aquaculture Information Center) News 2010 
  9. Teknologi Bioflok, Teori dan Praktek, AACC News 2010 
  10. Pembenihan Kepiting Bakau AACC News 2009 
  11. Budidaya Udang Organik di Indonesia AACC News 2009 
  12. Pembenihan Ikan Lele AACC News 2009  
Sebuah surat untukmu

Dear My Friends,

Kawan-kawan terlalu sibuk dan Saya tidak bisa mengungkapkan sesuatu yang amat pribadi di ruang kantor, jadi sesuatu yang pribadi enaknya disampaikan secara naratif memakai tulisan saja.  Maaf, Saya menggunakan bahasa yang kurang resmi supaya lebih personal. 

Sebenarnya sejak kecil Saya bukan seorang pendiam. Karakter Saya cenderung ekstrovert seperti papa dan mama Saya. Namun tuntutan hidup membuat Saya suka menyendiri. Dilahirkan dari keluarga pedesaan membuat Saya harus berusaha keras agar berhasil. Tetapi Allah menganugerahi Saya jalan yang ternyata lebih mudah. Namun terang ada usaha yang keras kadang malah amat keras, karena keterbatasan pendukung.

Walaupun demikian, mencoba sukses di dunia akademis membuat Saya jauh dari pergaulan. Dunia nyata menjadi bias oleh konsep-konsep yang kadang tidak matang, atau menciptakan peta yang kurang tepat. Keberhasilan yang naif ini menjadikan kita merasa seperti sebuah pulau, terpisah dari alam nyata, tidak membutuhkan orang lain sehingga kehilangan kemampuan membujuk, merayu dan mempengaruhi orang lain. Namun, akhirnya kita sadar bahwa pergaulan nyata sangat mengocok emosi. Seringkali akal sehat hilang hanya gara-gara tidak mampu menguasai gejolak perasaan.


Bersama Menteri BUMN, Tanri Abeng

































Bersyukur, Saya menyadari masalah itu lebih dini. Sebelum ke Aceh Saya beruntung mendapat kesempatan emas untuk mengikuti Technopreneurship Student LRAMP2006 di IPB. Hampir sebulan Saya mendapat bermacam masukan dan bimbingan tentang langkah-langkah membuat inovasi. Diperlukan pola pikir inovatif/karakter inovatif untuk menghasilkan inovasi. Akhirnya Saya menyimpulkan bahwa karakter, merujuk pada pendekatan psikologi behaviourisme, dapat diubah tentunya dengan tekad besar (Bawono, 2006: chapter, Transformasi Karakter).



Menyumbang lagu batak
Sepertinya pekerjaan bukan menjadi permasalahan utama. karena keberhasilan menggaet bos bergantung pada kemampuan kita untuk meyakinkan bahwa kita mampu membantu hidup mereka. Namun, ekspresi terbesar manusia adalah jika ia bisa membuat puas dirinya sendiri. Bekerja diantara senior-senior besar membuat kepuasan ini sedikit redup. Seperti dalam cerita orang bawah yang berhasil menjadi bos, maka seperti itulah alam bawah sadar Saya membisikkan. Hijrah ke luar Jawa berarti keluar dari kungkungan senioritas dengan resiko kehilangan bimbingan dari tajamnya visi-visi mereka. Namun ini tantangan.

Tahun 2007, Aceh membutuhkan banyak orang untuk membangun dunianya kembali pasca tsunami. Orang Aceh terkenal galak, tapi religious, sehingga Belanda pun takut. Institusi semacam BBAP Ujung Batee akan cukup membantu untuk berhubungan dengan mereka. Namun info tentang kantor ini sangat minim. Siapa yang mau dengan sukarela memberikan informasi dan foto-foto menarik tentangnya ? tak ada. Bukan kegiatan menguntungkan mungkin. Namun demikian, Pak Coco Kokarkin sebagai penggedenya ternyata figure yang terdidik, toleran dan relijius. Mungkin bukan pilihan yang salah jika Saya memulai dari sini. 

Seperti telah diceritakan diatas, adaptasi di tempat baru membutuhkan refleksi lebih dalam -membutuhkan sedikit pergeseran karakter, lebih mudah dibanding transformasi. Karakter pedagang yang luwes pantas dipilih. Untuk berubah, prakonsepsi harus dibersihkan, textbook universitas disimpan dalam kotak kardus, berpegang kepada naluri bertahan hidup.

Perubahan membutuhkan nyali besar (?) dan sesekali menengok hati kecil Anda. Kekhawatiran tidak mampu survive, membuatkan jalan bagi Saya untuk menjual es keliling, kue-kue buka puasa atau jualan pulsa. Setelah berangkat setengah jalan, terlihat jelas bahwa ada spiritualitas baru disitu. Mata pencaharian yang berbeda membuat pola pikir berubah, tersirat dalam tulisan Marx "ekonomi menentukan filosofi". Betul juga kota perdagangan Magelang lebih banyak memiliki orang ramah dibanding kota nelayan Pekalongan (subjektif ?).

Peserta Training Geoinformatics AIT
Orang perlu berubah, dengan observasi ke dalam atau memandang ke luar mencari petunjuk. Penting sekali untuk memahami manusia sebelum memahami pengetahuan mereka atau memahami pengetahuan mereka untuk memahami siapa mereka. Untuk itu kita perlu keluar. Jelajahi kultur asing 'thinking out of the box' katanya. Beruntung, dengan bekal bahasa asing sedikit diatas garis standar, si Bos memberikan kesempatan bagi Saya untuk sekali mengenal dunia luar, lepas dari kultur lokal. Di Bangkok selama 2 minggu Saya berusaha memahami GIS dan manajemen wilayah pantai, berkenalan dengan ilmuwan-ilmuwan di Asia. Disini, Saya juga menimbang mengukur dan berusaha membandingkan berbagai macam renungan personal.

Bersama saintis irak
Perkenalan yang singkat di Bangkok dengan dunia ilmiah rasanya masih kurang. Pengalaman kecil itu memicu banyak sekali pemikiran, mencuatkan pertanyaan, dan membangkitkan penasaran. Akan menjadi suatu pengalaman yang penting jika bisa merasakan suatu multikulturalisme sekali lagi. Kalau bisa sih banyak. Perasaan ini semakin lama semakin menguat. Tidak ada dana pribadi untuk itu. Mungkin jalan yang paling dekat adalah beasiswa. Mendengar kata beasiswa kadang membuat dada Saya bergejolak, otak Saya mendidih dan darah Saya mengalir deras. Mengefisienkan waktu, Saya bekerja fisik di siang hari, kursus bahasa di sore hari dan membaca atau menulis di malam hari kadang begadang setelah memberi makan benih udang.

Tak lama setelah itu muncul kesempatan. Pemerintah Aceh memberikan kebaikannya, menganggarkan belanjanya untuk beasiswa ke Taiwan. Sekali lagi beruntung, Saya mendapatkan National Taiwan Ocean University (Guo Li Hai Yang Da Xue), universitas terbaik di Taiwan untuk akuakultur. Saya bisa merasakan kebaikan negeri ini, kemudahan hidup dan keramahan penduduknya. Situasinya yang sangat Asia, tidak membuat kita merasa terasing. Tak ada ketakutan rasisme. Ternyata wajah kita pun tak jauh beda dengan mereka cuma mereka sedikit lebih terang. Suhu yang sejuk menambah syahdu suasana sehari-hari. Sungguh tempat yang nyaman untuk belajar, menyusun konsep dan melakukan pencarian ilmiah.

Hari-hari selalu penuh manfaat. Selain pengetahuan dan teknik, persepsi berubah, memahami mengapa manusia lain lebih maju dari kita dan bagaimana caranya untuk seperti mereka. Apa yang perlu diubah, network, pola berpikir, merespons stimulus, bekerja sama, merencanakan, rejeki dan akhirnya tanggung jawab di masyarakat. Semakin besar pohonnya semakin dalam pula akarnya kata orang. 

Menjelaskan akuakultur Aceh di AIT


Melihat dunia dan memahami perspektif bangsa lain adalah sesuatu yang berharga. Ilmu teknik perlu dikuasai namun penting pula untuk tahu kemana dunia sedang melangkah dan akan menjadi apa. Singkatnya, memahami mengapa dunia seperti ini dan menjadi seperti sekarang ini. Tidak salah jika kita ingin seperti ahli akuakultur saat ini atau melampaui pencapaian mereka seperti mereka melebihi orang-orang sebelumnya. Seperti kata Peter Drucker yang bijak “Seorang pemimpin yang paling sukses adalah dia yang membiarkan orang lain lebih sukses setelah dirinya tiada”. Cukup mulia jika seorang akuakulturis bercita-cita seperti C.E. Boyd, A.G.J. Tacon, Y. Avnimelech, D.A. Lightner, J.E. Bardach, R. Subasinghe, T. Flegel, S. da Silva, I.C. Liao, Chen Yaw Hu, M. Rimmer, Made L. Nurjana, K. Sumantadinata, J. Hutabarat atau semacamnya. Akan banyak sahabat berkontribusi untuk mewujudkan itu.
Membawakan tujuh presentasi dalam seminar dan konferensi Asian Pacific Aquaculture 2016

Memperoleh penghargaan bergengsi Tilapia International Dr. Jan Heine Award
Di Bribie High School, Australia
Dr. Khoirul Anwar penemu 4G

Dr. Chamberlain dari Global Aquaculture Advocate



Dr. Mike Rimmer dari ACIAR, Australia


Mark Luo, Junior Saya dari Filipina

Dr. Nyan Thaw dari Myanmar, ahli bioflok internasional

Dr. Lucca Micciche dari Italia

Telah diajar ahli pakan FAO Dr. Tacon

Memborong juara 1,2,3 Indonesian Aquaculture 2014

Sidang mahasiswa UNAYA

Kuliah Umum di Universitas Muhammadiyah Gresik

Mr. Pickering supporter budidaya Tilapia di Kepulauan Pasifik. 2 buku teknisnya sangat membantu bagi pemula

Prof Chien Yew Hu, guru besar senior general aquaculture dari Taiwan


Menjelaskan efek plus minus perifiton dalam International Annual Conference 5th 2015, University of Syiah Kuala

Bersama Dr. AGJ. Tacon dari Hawaii ahli pakan FAO, dan Abidin Nur MSc. Ka BPBAP Ujung Batee 2013

Bersama Simon Irvin, ahli pakan CSIRO Australia
Dengan Dr. Peter Cotteau dan Alexander van Halteren dari Nutriad, Belgia

Presentasi ACIAR final di Aceh

Acara ACIAR final di Makassar

Kuliah Umum di UNSOED

Dr. Kevin Fitzsimmons ketua International Tilapia Simposium on Aquaculture dan Asosiasi Tilapia Amerika

Prof Ketut Sugama dan Dr. Made Nurjana Duo Mantan Dirjen dan Legenda Hidup Akuakultur Indonesia

Dr. Palmer ahli Polychaeta Bribie Island Research Center, Queensland, Australia


Best regards
Ibnu Sahidhir



Beberapa aktivitasku 

Berkomunikasi dengan dunia akuakultur, majalah info akuakultur edisi 2015 Agustus, September, Oktober, Desember; dan 2016: Januari, Februari, Maret




 

Agustus

September

 
Oktober


1. Belajar 


NTOU Graduation Ceremony 2012
Dengan President International Student Association of NTOU

Menyambut kedatangan tamu dari Indonesia di Hsinchu, Taiwan

NTOU Library

Orientasi Library

Sepatah pesan dalam Dinner at AIT 2008

All my lovely professor in GIS training



II. Bekerja

Bersama Asian Development Bank meninjau kesuksesan nila air asin
Supervisi tambak

Panen tambak intensif
Membantu training kualitas air untuk ALSC

Memperkenalkan AACC Newsletter di ALSC Jangka
Berdiskusi dengan petambak udang Bireuen
Workshop Aquaculture Development in Aceh
Memperkenalkan bak resirkulasi dengan fitofiltrasi
Mempresentasikan kegiatan Aceh Aquaculture Communication Center
Bekerja bersama NGO dan petambak

Bersilaturahim dengan petambak kerapu di Samalanga

Mengkoleksi data member AACC


Membuat produk PIM