02/08/10

Pembenihan Kepiting Bakau


@Ibnu Sahidhir
Seperti kebanyakan masalah pada jenis hewan perairan untuk pangan lainnya, jumlah kepiting bakau di alam juga mulai mengalami penurunan. Usaha pembenihannya telah banyak dilakukan dengan hasil kelulushidupan benih yang relatif rendah. Namun demikian, usaha perbaikan teknik pembenihannya telah cukup banyak membawa hasil yang lebih baik. Berikut ini akan dibahas pembenihan kepiting bakau yang dapat diterapkan pada  jenis Scylla serrata (ukuran paling besar), S. olivacea (warna orange) and S.tranquebarica (warna ungu). 


 
Pemijahan
Kepiting bakau betina dapat diperoleh dari pembesar kepiting bakau Kematangan telur dapat dilihat di perut kepiting bagian bawah dengan membuka katupnya. Telur matang berwarna orange gelap. Kepiting dengan telur yang belum matang (kuning cerah) perlu diablasi pada satu tangkai matanya.
Kepiting kemudian ditempatkan di bak beton dengan substrat pasir dan pipa PVC (diameter 20 cm, panjang 30 cm) sebagai tempat sembunyi. Kepiting diberi makan kerang, cumi dan ikan segar dengan keseluruhan 10-15% dari berat tubuh per hari dan pakan formulasi 2%. Cacing laut hidup (annelid) diberikan sekali setiap 1-2 minggu sebagai tambahan. Kedalaman air di bak dijaga sekitar 30 cm. Air laut yang digunakan untuk induk dan larva disucihamakan dengan kaporit dengan dosis 10-20 ppm  dan kemudian dinetralkan dengan sodium thiosulfate setelah 12-24 h. Air diganti setiap hari sebelum pemberian pakan.
Telur yang dikeluarkan betina akan melekat pada rambut-rambut kaki renang pada katup di perut kepiting. Pengecekan induk pembawa telur dilakukan waktu air dikurangi saat ganti air. Betina matang telur dipindah per ekor ke wadah 300-liter atau 500-liter dengan salinitas 32 ppt dan diaerasi. Kepiting matang telur kadang mati beberapa atau semua telurnya karena infeksi jamur, pembuahan gagal, induk kekurangan gizi, atau stress lingkungan. Pada periode pengeraman yang lebih lama, telur mungkin terinfeksi jamur, bakteri benang dan protozoa. Infeksi ini menghambat perkembangan embrio dan kematian telur meningkat karena pergantian oksigen pada membrane telur terganggu. Pencegahan infeksi jamur dan protozoa cilliata dilakukan dengan pemberian 0.1 ppm Treflan (44% trifuralin) setiap 3 hari sekali di bak penetasan. Perlakuan ini tidak memiliki efek pada telur dan larva yang baru menetas.
Setiap kali memijah, kepiting jenis S. serrata dengan berat 350-525 gr dapat menghasilkan 0.8-4 juta zoeae, 0.7-3 juta zoeae untuk 240-300 g kepiting S. tranquebarica, dan 0.4-2.7 juta zoeae pada 360-465 g kepiting S. olivacea. Telur menetas setelah 7-14 hari setelah pada suhu 26.5-31°C.
 
Pemeliharaan Larva
 
Zoeae ditebar pada kepadatan 50 individu/l dalam bak beton lingkaran (diameter 4 m, tinggi 1 m). Larva diberi makan dengan rotifer Brachionus rotundiformis pada kepadatan 10-15 ind/ml. Chlorella sp. diberikan dengan kepadatan 50.000 sel/ml sebagai pakan rotifer. Nauplii Artemia salina diberikan pada kepadatan 0.5-3/ml untuk  zoea 3 dan tahap selanjutnya (kepadatan 5 ind/ml tidak layak secara ekonomis). Salinitas dijaga pada 32-34 ppt, suhu 26-30.50C, dan photoperiod 11- 13 jam terang. Air diganti 30% tiap hari mulai hari ke-3 dan meningkat menjadi 80% ketika larvae semakin besar atau terjangkiti bakteri kunang-kunang.

Pendederan
Megalopa dapat dipacking dengan kepadatan 250 ekor/l. Megalopa dapat didederkan di bak beton atau di hapa di tambak payau. Pemangsaan dapat dikurangi dengan menebar megalopa 3-5 hari sebanyak 1000-2000 ekor/ton air. Jaring hitam diletakkan dasar sebagai shelter dan di kolom air. Pakan yang diberikan berupa nauplii dan Artemia dewasa. Segera setelah megalopa berpindah ke tahap crablet, ikan rucah, kerang, udang kecil dapat diberikan secara berlebih. Pakan ditempatkan pada anco. Sekitar 30-50% dari volume air total (26-30 ppt) diganti setiap hari selama 5 hari pertama dan 2 kali sehari setelah itu.
Pemeliharaan megalopa dan crablet di hatchery tidak layak secara ekonomis. Usahakan tambak yang digunakan adalah tambak dengan pakan alami melimpah. Hapa yang digunakan berukuran 20 m2 dengan meshsize 1 mm. Batang bambu ditanam dengan kuat ke tanah tambak. Pakan alami tumbuh baik setelah seminggu aplikasi pupuk organic 1 ton/ha, urea (45-0-0) 75 kg/ha dan ammonium phosphat 16-20- 0) 150 kg/ha. Kedalaman air dijaga 60-80 cm. Sekitar 30% air diganti 3-4 kali sebulan. Untuk mencegah pemangsaan perlu dilakukan pemilihan ukuran, pemotongan capit setelah karapas mencapai panjang 2.5 cm namun ini layak jika jumlah crablet sedikit. Kelangsungan hidup benih sampai megalopa umur 3-4 hari adalah 3-7%. Sedangkan kelangsungan hidup dari megalopa ke juvenile (1-3 g ) setelah 30 di tambak adalah 30-50%. Crablet akan dihasilkan dalam jumlah banyak jika didederkan di hapa. Crablet 1 g  dengan panjang karapas 2 cm dapat langsung ditebar ditambak.